Langsung ke konten utama

Mengakui, Menerima, Memaafkan, dan Memperbaiki

 

Dewasa ini, ada begitu banyak gangguan dalam menyelesaikan pekerjaan. Bukan hanya rasa malas, tetapi juga mood yang sering kali ikut memengaruhi. Mood ini kerap dipicu oleh berbagai hal—kejadian yang dialami, situasi sekitar, atau perlakuan orang lain. Untuk diriku sendiri, yang paling sering memengaruhi adalah input dari orang lain, baik berupa perkataan maupun perbuatan.

Padahal, ada banyak kewajiban yang harus ditunaikan. Jika ditunda, semuanya akan menumpuk, membebani pikiran, dan pada akhirnya justru melelahkan diri sendiri.

Di sisi lain, aku juga diingatkan agar tidak melakukan sesuatu hanya demi pengakuan atau pembuktian kepada orang lain. Sebab, tindakan yang tidak dilandasi keikhlasan bisa menjadi amalan yang sia-sia—tidak bernilai karena tidak diniatkan karena Allah. Seharusnya, setiap langkah yang diambil benar-benar ditujukan untuk mengharap rida-Nya semata.

Dua hal inilah—kewajiban yang harus ditunaikan dan kewajiban untuk ikhlas—yang membuatku merasa perlu untuk terus mereset niat dan fokus. Aku ingin setiap usaha yang kulakukan benar-benar mengarah pada Allah, bukan pada penilaian manusia. Dengan begitu, waktuku bisa digunakan lebih maksimal untuk beramal, tanpa dikendalikan oleh bagaimana orang lain bersikap atau memperlakukanku.

Namun, aku juga belajar memahami bahwa dalam interaksi sehari-hari, tak jarang kita berhadapan dengan sikap orang lain yang tidak menyenangkan. Entah berupa kata-kata yang kurang tepat, nada bicara yang menusuk, atau gestur yang membuat hati tidak nyaman. Ketika hal ini terjadi berulang, apalagi dari orang yang dekat, luka itu bisa berubah menjadi trauma. Alam bawah sadar pun terbentuk: setiap ucapan atau pertanyaan darinya selalu terasa seperti serangan atau upaya menyalahkan—padahal belum tentu demikian.

Di titik itu, aku mencoba merangkul diriku sendiri.
Aku berkata dalam hati: aku tidak akan menyalahkanmu. Memang menyakitkan ketika disalahkan atau disu’udzoni, terlebih jika terjadi berulang dan untuk sesuatu yang kita yakini tidak salah. Itu wajar. Tidak apa-apa merasa lelah dan terluka.

Namun setelah itu, aku belajar untuk memaafkan. Menjelaskan sesuatu dengan tenang dan proporsional, bukan untuk membela ego, tetapi untuk meluruskan cara pandang yang keliru. Sekaligus, aku pun perlu memperbaiki prasangkaku sendiri—menanamkan keyakinan bahwa apa yang ia lakukan mungkin tidak disengaja.

Aku berusaha berhusnudzon: membayangkan bahwa ia akan menjadi pribadi yang berbaik sangka kepadaku. Bukan semata-mata untuknya, tetapi agar Allah menakdirkan hal itu benar-benar terjadi, dan agar aku mampu menguasai diriku sendiri—tidak larut dalam emosi.

Bismillah, kamu pasti bisa.
Maafkan setiap orang yang pernah melukaimu. Perbaiki prasangkamu dengan husnudzon. Lalu, kembali fokus mereset niat—berinteraksi sebaik mungkin dengan sesama manusia, semata-mata karena Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bapak Penjual Cukuran Kumis

  Ibarat kentut mau keluar, kalo ditahan sakit. Dikeluarin takut bau. Jadi aku cerita di sini, semoga tidak ada “bau”nya dan lega rasanya, hehe.   Tadi siang selepas dari kantor, aku berhenti sejenak pada sebuah masjid favoritku di sudut jalan pahlawan. Aku ambil spot teras masjid dekat pintu masuk wanita, bersandar pada dindingnya yang putih, lantas meraih tasku. Baru saja kubuka HP ini dan memeriksa notifikasi di Whatsapp, ada seorang Bapak usia 40-45 tahun yang menghampiriku. Jujur, agak kaget dan takut, beliau agak berdebu. Tapi beliau cukup sopan, dan beliau menawarkan jualannya, pencukur kumis yang dibandrol dengan harga Rp. 5.000 per piece. Dengan harga yang menunjukkan keseriusan dia mencari rezeki halal, aku pun memberikan uang lebih untuk 1 piece. Lantas dia bertanya tempat tinggal, aktivitas, usia, keluarga hingga nomor HP-ku. “Bu, boleh minta nomor HPnya?” To be honest, ini cukup random dan membingungkan, “Buat apa pak nomor HP?” Beliau bilang “Ya, kalo d...

Perang armageddon

Peperangan Armageddon adalah peristiwa pertama sebagai permulaan dari serentetan huru-hara di akhir zaman, pertempuran ini adalah adalah perang penghancuran dan nuklir yang akan memusnahkan sebagian besar senjata-senjata strategis. Setelah itu, alat-alat dan senjata yang dipakai dalam peperangan selanjutnya adalah pedang, panah, dan kuda. Pengenalan Perang Armageddon Perang Armageddon adalah: 1. Peristiwa besar dan perang kehancuran 2. Pertemuan strategi dari perang raksasa yang sudah dekat waktunya 3. Perang persekutuan internasional (Perang Dunia) yang akan segera datang, yaitu yang sedang ditunggu oleh seluruh penduduk bumi pada hari ini 4. Ia adalah perang politik dan agama 5. Ia adalah perang raksasa oleh banyak pihak 6. Ia adalah perang yang paling besar dan dahsyat dalam sejarah 7. Ia adalah awal dari kemusnahan 8. Ia adalah perang yang dimulai dengan menyeluruhnya ‘perdamaian palsu’, sehingga orang-orang berkata, ‘perdamaian sudah datang’, ‘keamanan su...