Langsung ke konten utama

Postingan

Bapak Penjual Cukuran Kumis

  Ibarat kentut mau keluar, kalo ditahan sakit. Dikeluarin takut bau. Jadi aku cerita di sini, semoga tidak ada “bau”nya dan lega rasanya, hehe.   Tadi siang selepas dari kantor, aku berhenti sejenak pada sebuah masjid favoritku di sudut jalan pahlawan. Aku ambil spot teras masjid dekat pintu masuk wanita, bersandar pada dindingnya yang putih, lantas meraih tasku. Baru saja kubuka HP ini dan memeriksa notifikasi di Whatsapp, ada seorang Bapak usia 40-45 tahun yang menghampiriku. Jujur, agak kaget dan takut, beliau agak berdebu. Tapi beliau cukup sopan, dan beliau menawarkan jualannya, pencukur kumis yang dibandrol dengan harga Rp. 5.000 per piece. Dengan harga yang menunjukkan keseriusan dia mencari rezeki halal, aku pun memberikan uang lebih untuk 1 piece. Lantas dia bertanya tempat tinggal, aktivitas, usia, keluarga hingga nomor HP-ku. “Bu, boleh minta nomor HPnya?” To be honest, ini cukup random dan membingungkan, “Buat apa pak nomor HP?” Beliau bilang “Ya, kalo d...
Postingan terbaru

Tentang Rasa

Bismillaah. Rasa itu datang dari Allah. Sedih, kecewa, marah, kesal, senang, bahagia, pun dengan rindu. Rasa itu Anugerah dari Allah untuk mewarnai tiap momen waktu kita, menjadikannya lebih hidup. Di dalam rasa itu, Allah uji kita sekaligus ingin agar kita mendapatkan pahala. Dengan sedih, kecewa, marah, kesal, kita tidak hanya dilatih dan diuji untuk bersabar, namun diingatkan bahwa satu-satunya pengharapan yang tidak akan mengecewakan adalah Pengharapan kepada-Nya. Dengan senang, bahagia, kita diuji apakah jujur dalam bersyukur, apakah masih tetap ingat dengan-Nya dan menjadikannya pemicu untuk terus memperbaiki ibadah? Begitu pun dengan rindu. Ini datang dengan izinnya. Meski, bisa datang karena dosa yang dilakukan bisa pula karena memang Allah yang menginginkan rasa ini. Jika datang karena dosa, maka kaidahnya adalah meminta ampun. Lalu, aku jadi teringat perkataan seorang guru, Buya Yahya: "Seorang pemuda menahan cintanya karena takut kepada Allah. Kemudian aja...

Tentang Hikmah

Pagi ini biasa sih. Abis selesai urusan yudisium, terbitlah harus coba mencari kesibukan dalam hal ikut apply magang/kerja ataupun mencari informasi ttg dunia kerja/S2. Tapi, entah mungkin karena banyak waktu luang, itu justru membuatku tenggelam dalam youtube. Yang pertama, kecantol di channelnya mbak Najwa Shihab tentang Pura-pura Lapas. Iya, gue baru tau.. ternyata itu video lama. Tapi menarik aja sih. Sometimes.. Entahlah, dunia ini memang sangat menipu. I mean like, di video pertama itu menunjukkan kondisi lapasnya LHI dan kemudian OC kaligis, bagus banget sih menurutku. Abis itu dikunjungi ke lapas-lapas lainnya, termasuk punyanya Setnov dan Nazaruddin. Kok jelek sih, batinku dalam hati..  Eh ternyata.. yg jelek itu bukan lapas aslinya L Tapi pas diwawancara seolah-olah kayak yang emang di situ…. (ini dibertitahu sama menkumham pas di acara) Hmm aku jadi mengambil kesimpulan, bahwa memang ya sesuatu itu terkadang nampak benar dan baik, tapi justru a...

Is it okay to be too perfectionist ?

Kesal. Nyesek. Sebel. Sedih. Menyesal. Tidak tahu akan dituangkan dalam bentuk apa dan kepada siapa. Kesal, karena orang lain bisa melakukan sesuatu dengan jalan jauh lebih mudah. Nyesek, karena ga suka dengan cara itu. Dasar oportunis, batinku dengan sinis. Sebel, karena yang kulakukan sudah jauh dari itu, tapi ga boleh menyombongkan diri. Sedih, karena secara tidak sadar mengedepankan sifat perfeksionis. Menyesal, karena sifat itu terlanjur dilakukan dan sudah terlanjur ada akibatnya. Di saat ini aku merasa seperti di antara dua pilihan. Melakukan hal mudah, tapi tidak sesuai dengan jurnal internasional. Atau melakukan sesuai jurnal internasional tapi sulit entah hingga kapan. “Hmm aku tidak suka jika hasil skripsiku tidak benar-benar berkualitas, apalagi itu topik yang masih terus hangat di dunia internasional. And, my signature should be perfect .” pikirku. Tapi… Sampai kapan aku akan berada dalam kondisi ini jika kesempurnaan/lebih baik terus kukejar. Dan...

Zero to Hero [Resume Buku]

Zero to Hero  Karya: Solikhin Abu Izzudin               Setiap orang diberi waktu yang sama setiap tahunnya, bulannya, minggunya, harinya, jamnya, menitnya, hingga detiknya tidak ada yang berbeda. Namun nyatanya. ada orang yang biasa saja, ada pula orang yang juga biasa saja tetapi mampu mendahsyatkan diri dengan berbagai karya di dalam penjara, pencapaian yang tidak mungkin di usianya, dan peninggalan ilmu pengetahuan segudang yang sulit dibayangkan jumlahnya.             Mereka bukanlah orang yang luang waktunya, sedikit masalahnya, jarang menemui kegagalan, tapi justru dari kesempitan, masalah, kegagalan, dan tekanan itulah muncul karya-karya emas mereka. Kuncinya adalah kreativitas, kegigihan, dan keuletan saat meniti jalan yang dipilihnya. Nantinya akan ada masanya, kewajiban yang harus kita jalankan lebih banyak dari waktu yang kita punya, oleh karena itulah kita harus saling...

Siapa Sangka [Part 1]

source img: http://blog.blogthings.com “Iya sih kok mbak hasna bisa berubah?” Pertanyaan adikku yang membuat lidahku kelu untuk menjawabnya. “Alhamdulillaah ya.” Akhirnya itu yang keluar. -------- Hidup sebagai seorang anak yang temperamen (bukan pemarah ya, tapi lebih parah dari itu), ga percaya? mungkin masih terlihat gurat-guratan itu di alisku yang menukik di ujung-ujungnya, buah dari seringnya aku marah, entah benar atau tidak hahaha. Bukan, ini bukan marah karena emang seharusnya marah, tapi marah-marah karena urusan yang sepele, serius ini lebih sepele dari semut yang nggak sengaja keinjak. Aku bisa marah karena orang sebelum aku yang selesai cuci tangan matiin keran padahal aku udah ngantri di belakangnya. Whaat?? That’s true. Karenanya aku bisa marah sampai ngebanting pintu yang akhirnya dindingnya retak-retak ga jelas. But, aku nyesel sih abis amarahku reda, sayang aja sama dindingnya jadi retak ga mulus lagi L #abaikan Aku bisa marah karen...

Renungan Di Sela Liburan

Melalui Waktu atau Dilalui Waktu?                Akhirnya otak dan hati ini mulai berontak. Jari jemari dingin mulai meraih dan membuka bongkahan tipis cover notebook. Entah mungkin sudah sekitar tiga hari keseharianku tidak jauh dari si gembul. Kucing gemuk yang ditinggal anak dan istrinya. Walau ibuku selalu bilang “itu bukan istri dan anak-anaknya.” Makan, tidur, main hape, tiduran, ya sesekali mandi (maksudnya sehari mandi sekali, please aku nggak sejorok itu), sholat karena memang kewajiban, bantu-bantu ibu kalau “teteh” (panggilan untuk ibu separuh baya yang membantu membersihkan rumah, mencuci baju, dan pekerjaan rumah tangga lainnya) sedang tidak masuk.       Kalau dibilang gabut, iya. Kalau dibilang ga ada kerjaan, nggak. Ada tugas yang kubuat dan dibuat orang lain untuk mengisi liburanku, tapi belum kukerjakan. Deadline itu bisa bikin kita bekerja dibawah tekanan. Alibi basi, bullshit dan busu...