Ibarat kentut mau keluar, kalo ditahan sakit. Dikeluarin takut bau. Jadi aku cerita di sini, semoga tidak ada “bau”nya dan lega rasanya, hehe. Tadi siang selepas dari kantor, aku berhenti sejenak pada sebuah masjid favoritku di sudut jalan pahlawan. Aku ambil spot teras masjid dekat pintu masuk wanita, bersandar pada dindingnya yang putih, lantas meraih tasku. Baru saja kubuka HP ini dan memeriksa notifikasi di Whatsapp, ada seorang Bapak usia 40-45 tahun yang menghampiriku. Jujur, agak kaget dan takut, beliau agak berdebu. Tapi beliau cukup sopan, dan beliau menawarkan jualannya, pencukur kumis yang dibandrol dengan harga Rp. 5.000 per piece. Dengan harga yang menunjukkan keseriusan dia mencari rezeki halal, aku pun memberikan uang lebih untuk 1 piece. Lantas dia bertanya tempat tinggal, aktivitas, usia, keluarga hingga nomor HP-ku. “Bu, boleh minta nomor HPnya?” To be honest, ini cukup random dan membingungkan, “Buat apa pak nomor HP?” Beliau bilang “Ya, kalo d...
Bismillaah. Rasa itu datang dari Allah. Sedih, kecewa, marah, kesal, senang, bahagia, pun dengan rindu. Rasa itu Anugerah dari Allah untuk mewarnai tiap momen waktu kita, menjadikannya lebih hidup. Di dalam rasa itu, Allah uji kita sekaligus ingin agar kita mendapatkan pahala. Dengan sedih, kecewa, marah, kesal, kita tidak hanya dilatih dan diuji untuk bersabar, namun diingatkan bahwa satu-satunya pengharapan yang tidak akan mengecewakan adalah Pengharapan kepada-Nya. Dengan senang, bahagia, kita diuji apakah jujur dalam bersyukur, apakah masih tetap ingat dengan-Nya dan menjadikannya pemicu untuk terus memperbaiki ibadah? Begitu pun dengan rindu. Ini datang dengan izinnya. Meski, bisa datang karena dosa yang dilakukan bisa pula karena memang Allah yang menginginkan rasa ini. Jika datang karena dosa, maka kaidahnya adalah meminta ampun. Lalu, aku jadi teringat perkataan seorang guru, Buya Yahya: "Seorang pemuda menahan cintanya karena takut kepada Allah. Kemudian aja...